Pungangan

KB001 Rogojembangan

Dukuh Pungangan, bersama dukuh Pliken, Sinutug, Kopeng tergabung dalam unit Pemerintahan terkecil dalam konsep Tata Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Desa Pungangan. Berlokasi di Kecamatan Doro. Pungangan adalah Desa Paling selatan dalam wilayah Kecamatan Doro, berbatasan dengan Kecamatan Petungkriyono. Desa - desa tersebut mewarnai kehidupan Pegunungan Rogojembangan, salah satu Gunung Berapi Purba di Pulau Jawa. Catatan keberadaan Desa Pungangan ditenggarai eksistensinya pada abad XV Tarikh Masehi. Akan tetapi, seluruh warga setempat menyakini, bahwa lokasi tersebut sudah dihuni manusia ratusan tahun sebelum abad XV M.

Anak perempuan berumur 10 tahun berlari-lari kecil seraya tertawa, menghias suasana pagi pinggiran Desa Pungangan, embun baru saja meninggalkan mayapada, sinar matahari bersinar penuh kelembutan, dedaunan mengangguk syahdu diterpa angin dingin semilir. Lelaki tua berumur 62 tahun tertawa renyah, membelai rambut perempuan kecil yang mendekapnya erat-erat, "capek mbah" ujar sang cucu. Mbah Jaya demikian lelaki tua itu dikenal, menghela nafas. Empat tahun sudah Ia hidup berdua dengan cucunya di desa nan sejuk dan penuh kedamaian.

Mudah sekali ditandai, logat Sunda Mbah Jaya sangat kental terdengar, meskipun Ia berbicara dalam bahasa Jawa, halus maupun kasar. Sesungguhnyalah, empat tahun lalu Mbah Jaya datang ke Desa Pungangan bersama seorang anak Perempuan Kecil berumur 6 tahun. Mula-mula Ia tinggal menumpang pada satu Keluarga, setahun kemudian Mbah Jaya membeli sebidang Tanah Pekarangan, membangun rumah sederhana diatasnya dengan dua kamar tidur. Membeli beberapa petak sawah dan kebun, Mbah Jaya hidup dari bertani dan memelihara ternak, memelihara kambing, bebek dan ayam sebagai pendukung kecukupan protein hewani. Mbah Jaya pun memelihara ikan nila dalam kolam-kolam terpal.

Tidak seorangpun tahu asal-usul Mbah Jaya, dan beliau lebih sering menjawab dengan tertawa saat ditanya asal-usulnya. Kesopanan, ewuh pakewuh khas Jawa, membuat warga desa tidak mempersoalkan asal-usul Mbah Jaya, tokh Mbah Jaya berperilaku sangat baik, aktif berpartisipasi dalam banyak kegiatan desa, berbaur dengan masyarakat, senantiasa bersikap sopan, menghormati yang tua, menghargai para muda.

Satu keahlian Mbah Jaya bahkan menjadi sarana menggalang kerukunan, terutama pada kelompok anak-anak muda. Dua kali seminggu, Mbah Jaya melatih anak-anak muda desa bermain ketrampilan pencak silat yang oleh Mbah Jaya sendiri dinamakan Olah Kanuragan, juga dikenal dengan istilah bela diri. Apa yang diajarkan Mbah Jaya, berbeda dengan aliran bela diri yang banyak dikenal masyarakat saat ini, seperti Kempo, Karate, Yudo, Jiujitsu. Mbah Jaya mengajarkan sejenis pencak silat meskipun banyak perbedaan dengan pencak silat yang dikenal selama ini. Pencak Silat kini telah masuk menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Kancah Nasional maupun Internasional. Bela diri khas Sumatra ini berkembang baik dalam masyarakat Indonesia. Namun yang diajarkan Mbah Jaya ada perbedaan.

Mbah Jaya menamakannya Olah Kanuragan yang secara leksikal bermakna, mengolah tubuh. Akan tetapi sesungguhnya lebih banyak faktor psikis dan mental yang dilatih, tubuh hanya sebagai perantara dan wujud yang bisa dipandang, dirasakan dan didengar. Selain gerakan-gerakan dengan aturan tertentu, Mbah Jaya mengajarkan tuntunan perilaku, sikap mental serta ritual untuk mendukung latihan, seperti berpuasa dalam berbagai tataran. Ada poso mutih yakni berpantang makan apapun selain Nasi Putih tanpa lauk pauk dan minum air jernih dalam jangka waktu tertentu. Juga diajarkan poso ngrowot dengan berpantang segala jenis makanan kecuali jenis ubi-ubian. Mbah Jaya mengajarkan semua itu dan menjelaskan manfaat bagi tubuh serta psikis.

Banyak anak-anak, remaja dan kaum muda mengikuti kelompok latihan yg diselenggarakan, Mbah Jaya hanya bertindak sebagai instruktur, sementara pengorganisasian, pengaturan jadwal latihan dan hal-hal yang mendukung, diatur oleh pengurus Karang Taruna. Kegiatan yang sangat mendukung pengembangan mental, perilaku dan kedisiplinan ini berjalan marak. Sehingga Sita Mawartiningrum cucu tunggal Mbah Jaya memiliki banyak teman di desa tersebut. Itu pula salah satu tujuan Mbah Jaya menjadi instruktur olah kanuragan, selain tujuan yang lebih besar untuk menjaga dan melestarikan warisan tak benda para leluhur di Tanah Jawa.

Sasmitoning Ghaib

"Sita cucuku" Mbah Jaya berkata pelan pada suatu sore. "Usiamu kini sudah mencapai 15 tahun." Mbah Jaya berhenti sejenak. Sita menunduk diam, menyimak setiap kalimat Simbah yang sangat disayanginya. Sita melakukan semua latihan berat tanpa mengeluh, karena rasa sayang dan hormat mendalam pada kakeknya. "Selama ini simbah sudah mengajarkan banyak hal kepadamu, berbagai latihan dan laku yang mungkin membosankan dan melelahkan" Mbah Jaya menghela nafas, "Tidak lain karena ada sesuatu hal khusus yang ingin simbah mohon padamu untuk melatihnya, dan menguasainya." Mbah Jaya membuka satu gulungan tua yang tersusun dari bilah-bilah pelepah lontar. Sita melirik dan mengernyitkan dahi, karena tidak memahami ukiran-ukiran kecil remang-remang yang tertulis pada tiap bilah lontar tersebut.

"Kamu tidak memahami tulisan ini" mbah Jaya tersenyum, melihat cucunya melirik. "Tapi kamu sudah menjalankan banyak laku yg terkandung dalam kitab ini" mbah Jaya, membuka dua gulungan lain dan meletakkan sejajar, ada tiga rangkaian lontar dengan ukuran panjang berbeda. "Kitab ini" mbah Jaya menunjuk lontar paling kanan, "simbah simpan seumur hidup." Yang ini, mbah Jaya menunjuk gulungan tengah, "disimpan Lek Swandoyo, sahabat simbah, juga seumur hidupnya." Yang ini, seraya menunjuk gulungan paling kiri, "disimpan om Hombing seumur hidupnya." "Apa yang ada dalam semua itu mbah ?" Sita bertanya agak penasaran. Mbah Jaya menarik nafas dalam, menghembuskan bersama asap rokok.

"Kamu masih ingat bukan, satu lahun lalu Lek Swandoyo dan Om Hombing, hampir sebulan menginap di rumah kita" ujar mbak Jaya selanjutnya Sita mengangguk. "Kami bersahabat sejak muda, kami memiliki kesenangan dan ketertarikan pada hal yang sama, yaitu olah kanuragan , suatu yang aneh dan tidak lazim pada masa simbah dan masa sekarang ini" mbah Jaya tersenyum. "Namun kami bertiga meyakini, bahwa olah kanuragan masih banyak bermanfaat, bahkan pada masa modern seperti sekarang ini. Para Peran Pengganti dalam industri film, satuan pengaman, anggota militer dan kepolisian, debt collector, garong, maling adalah kelompok yang masih melestarikan olah kanuragan " mbah Jaya menjelaskan. Sita pun tersenyum, mendengar penjelasan simbah. "Kami tiga sahabat, menjadi akrab dalam waktu lama, saling membantu dalam banyak persoalan, bertualang bersama." mbah Jaya berhenti sejenak. "Sampai pada suatu waktu, kami saling bertukar cerita tentang rahasia pribadi masing-masing. Kitab ini menjadi topik paling menarik. Hanya saja, darah muda dan ego kami bertiga belum mampu dikendalikan, sehingga kami tidak ada upaya untuk saling memperlihatkan warisan masing-masing, sesuatu yang kami terima dari masing-masing leluhur." Mbah Jaya menyedot rokok dengan khidmat, menghembuskan asapnya bersama kenangan yg terlintas dalam benak.

"Setelah bertahun-tahun berpisah, pada sekitar dua tahun lalu, kami saling berhubungan, saling bercerita. Rasa kangen dan kenangan lama pun kembali menyatukan kami. Setahun lalu mereka memutuskan untuk berkunjung di rumah ini." mbah Jaya tersenyum. "Kami secara serius mempelajari kitab ini, sungguh menakjubkan wahai cucuku. Ternyata kitab ini telah terbagi menjadi tiga bagian pada suatu waktu entah kapan, dan para leluhur kami memegang satu potong bagian, sehingga sangat lama leluhur kami tidak mampu memahami isinya. Setelah kami cocokkan, menyatukan pemahaman masing-masing, kami sepakat bahwa ini adalah satu bagian integral yang hanya bisa dipahami dalam kesatuan." Mbah Jaya kembali tersenyum. "Kami merasa sudah terlalu tua untuk mempelajari dan melatih kandungan kitab ini, keturunan Lek Swandoyo dan Om Hombing, tidak ada yang memiliki ketertarikan pada olah kanuragan. Ketika simbah sampaikan, bahwa kamu, sebagai cucuku, secara khusus dilatih untuk melestarikan kekayaan tak benda leluhur kita" lanjut mbah Jaya pula. "Mereka berdua setuju, untuk memperdalam pemahaman isi kitab ini dan bersama simbah akan mewariskan kepadamu. Simbah hanya mengikuti firasat saja ketika melatihmu melakukan berbagai laku yang simbah ambil dari potongan kitab yg ada pada simbah, itulah yang dinamakan jodoh, wahai cucuku." "Simbah berharap, kamu bersedia bekerja keras, meluangkan waktu dan tenaga untuk memenuhi harapan kami para orangtua." Mbah Jaya menutup cerita sambil menatap penuh harap pada Sita. Sita menunduk makin dalam, memikirkan semua kalimat mbah Jaya, tak lama kemudian Sita mengangkat muka dan melihat sinar harapan pada mata mbah Jaya. Sita sangat sayang pada simbah, selalu ingin melakukan apa saja untuk menyenangkan mbah Jaya. Ia pikir tidak ada salahnya melakukan semua itu dengan sungguh-sungguh, selain minatnya pada olah kanuragan muncul sejak beberapa tahun terakhir. Latihan dan laku yang tadinya dianggap beban berat, semakin hari semakin bisa dilakukan dengan rela hati, bahkan menyenangkan. Sita merasakan tubuhnya jadi sehat dan merasa kuat, tumbuh menjadi perempuan menarik, dengan bentuk tubuh sangat menarik, sensualitas meningkat dengan saya tarik dari dalam sangat menonjol. Sita juga merasakan mampu menjadi lebih disiplin dalam perilaku, tidak mudah putus asa saat menghadapi berbagai kesulitan.

"Sita bersedia mbah" katanya pula, seraya memandang mbah Jaya dengan senyum ikhlas. Mbah Jaya tersenyum dan memeluk cucunya dengan curahan kasih sayang, mengelus rambut Sita yang hitam, panjang dan gemuk. "Nanti malam simbah akan mempersiapkan tempat laithan di pinggir Alas Rindangan, dua hari mendatang, kedua pamanmu, Lek Swandoyo dan om Hombing akan tiba di rumah kita. Kamu bereskan kamar simbah ya. Kami akan tidur bertiga seperti dulu." Sita mengangguk dan melangkah sigap. Mbah Jaya mengambil cangkul, sabit, gergaji dan meletakkan dalam satu tempat.

Dengan cekatan Sita merapikan kamar mbah Jaya, kamar sangat sederhana nyaris tanpa perabotan. Satu peti kayu besar yang disebut Glhedhek tempat menyimpan segala macam barang berikut pakaian. Satu amben kayu, dan satu tikar rotan ukuran 2 x 2 m. Lantai kamar, sebagaimana lanti seluruh rumah berupa tanah dikeraskan dan diratakan. Dinding rumah bersusun, 50 cm dari lantai dibuat dari bahan batu dan semen, diatasnya berdiri dinding kayu 3 m, atap joglo tanpa plafon menjadikan rumah sangat nyaman dengan udara segar lancar berlalu-lalang.

Rumah ukuran 8 x 10 m berdiri di sudut lahan ukuran 670 m, mbah Jaya sengaja memilih pekarangan di bagian paling pinggir dukuh Pungangan, sehingga kelihatan terpencil dari kelompok rumah warga sekitar. Halaman rumah bagian depan ditanam bunga kertas,celosia dan bunga matahari berikutnya penuh dengan tanaman cabe rawit, kacang panjang, kangkung tanah. Sekeliling pagar dari tanaman kayu jaran merambat pohon pare dan cincau. Rumah desa nan asri, bersih, indah serta penuh manfaat tanpa melupakan keindahan. Atap rumah berbentuk joglo tertutup dhuk menjadikan rumah makin sejuk.

Mbah Jaya berjalan menuju Alas Rindangan memanggul peralatan, sabit, golok, gergaji, bor, cangkul, linggis dan kapak, satu tas berisi palu, pisau dan alat pertukangan lain. Berjalan gagah dengan langkah ringan, hatinya bungah penuh semangat. Dada terasa lapang, nyaris seumur hidupnya menghadapi teka-teki segepok lontar warisan kakeknya, tanpa bisa Ia pahami. Kini tabir misteri mulai terkuak, bertahun-tahun mbah Jaya mencoba melakukan berbagai laku dan latihan sesuai petunjuk kitab lontar, akan tetapi selalu berakhir dengan kegagalan, Ia merasa ada yang tidak selesai dalam kitab yang dipegangnya, tanpa tahu bagaimana menyelesaikan semua misteri tersebut. Tiap kali menjalani berbagai latihan, mbah Jaya merasa pusing dan mual pada ujung latihan, karena memang kitab tersebut tidak lengkap.

Sejak bertemu dengan dua sahabat lama, Swandoyo dan Sihombing, menyatukan potongan-potongan lontar yang dipegang masing-masing, mereka bertiga melakukan laithan bersama, mencoba beberapa laku, mereka merasakan kenyamanan. Tidak ada pusing atau mual, nafas mereka menjadi makin lancar, tenaga cadangan dalam diri masing-masing berhasil dibangkitkan dengan sempurna. Sebelum menyatukan potongan lontar, Swandoyo dan Sihombing mengalami hal yang sama dengan mbah Jaya, ketika mencoba melakukan latihan dengan petunjuk lontar masing-masing, mengalami pusing, mual serta rasa sakit dalam dada saat bernafas, sehingga mereka tidak pernah lagi mencobanya, dan nyaris melupakan pengetahuan bermakna yang terkandung dalam bundel lontar tersebut.

Mbah Jaya tersenyum puas, lamunan panjang nan mententramkan. Tiba di tepi alas Rindangan, mbah Jaya langsung bekerja, memotong balok kayu, mencangkul dan memendam balok, membuat para-para dari bambu dan banyak hal lain. Menjelang tengah malam, mbah Jaya menghentikan pekerjaan mempersiapkan lokasi latihan bagi cucu kesayangan. Esok hari dilanjutkan dengan membangun dangau, menggunakan bahan utama bambu.

Dua hari kemudian, Swandoyo dan Hombing tiba di desa Pungangan, ini kunjungan mereka yang kedua kali. Bertiga mereka menyelesaikan persiapan lokasi latihan, berikut perlengkapan yang dibutuhkan. Sita memasak dan mengantarkan makanan ke tepian alas Rindangan. Empat hari sejak kedatangan Swandoyo dan Hombing, lokasi latihan telah sepenuhnya siap. Kakek dan dua sahabatnya mencoba menggunakan seluruh fasilitas latihan, berloncatan diatas titian bambu, berpindah ke tonggak balok, bergantung, berayun, melompat, dan hasilnya memuaskan.

Alas Rindangan

Sande olo berlalu, pada suatu sore tanggal pitu legeno, Sita menyelesaikan poso mutih selama tiga hari berturut-turut. Setelah makan minum secukupnya, Sita dengan pakaian ringkas, rambut diikat erat ke belakang berdiri tegak. Mbah Jaya memberikan aba-aba dan mulailah Sita melakukan gerak pembukaan, tubuhnya meliuk, berputar, berdiri diatas ibu jari kaki, berguling diatas rumput sebanyak tiga kali, melompat tinggi disusul melakukan dua kali salto dan turun kembali tegak diatas kedua kaki tanpa begoyang sedikitpun. Mbah Jaya, Swandoyo dan Sihombing mengangguk puas melihat seluruh gerakan Sita.

Tak lama kemudian Sita duduk bersila, menyaksikan Sihombing melakukan gerakan jurus ke sembilan secara pelan, mbah Jaya dan Swandoyo mengamati secara cermat. Lima belas menit, Sihombing memainkan gerakan rumit menyerang sambil menghindar dengan menekan tubuh ke belakang, dan menutup gerakan dengan berdiri tegak, kedua kaki renggang. "Mohon diulang pada langkah ke duapuluh tujuh" Sita berkata tenang. Sihombing tersenyum, dan mengulang langkah ke duapuluh lima, duapuluh enam dan duapuluh tujuh. Tidak ada komentar dari Sita, Mbah Jaya maupun Swandoyo. Sihombing menyeka keringat di dahi dan duduk diatas rerumputan, Sita bangkit, memberi hormat kepada ketiganya dengan membungkuk. Melangkah pelan ke tengah lapangan dan mulai memainkan gerakan jurus ke sembilan yang telah diperagakan Sihombing.

Gerakan Sita terlihat lebih bertenaga dan lebih lembut, kodrat sebagai perempuan menjadikan seluruh gerakan Sita tampak eksotik. Liukan tubuh, sabetan tangan dan tendangan melayang tampak rapi dan presisi. Dedaunan sekitar bergoyang disambar angin yang menghambur setiap kali Sita memainkan jurus-jurus rumit dari kitab Sasmitoning Ghaib. Mbah Jaya, Swandoyo dan Sihombing takjub melihat Sita memainkan berbagai gerakan dengan sepenuh tenaga.

Sasmitoning Ghaib

Tiga hari pertama, Sita dilatih berbagai gerakan untuk melatih kelenturan, menyesuaikan setiap tarikan dan hembusan nafas. Menjelang tengah malam, Sita melakukan latihan olah nafas dengan duduk diam atau berdiri diatas satu kaki. Malam keempat mereka beristirahat. Latihan dilakukan sejak matahari tenggelam hingga matahari terbit, pada pagi hari berkumpul dalam pondok mbah Jaya, berdiskusi, melakukan evaluasi seluruh latihan yang telah dilaksanakan, melakukan berbagai perbaikan bila diperlukan. Selesai mandi dan sarapan, mereka berisitirahat, sampai setelah tengah hari, masing-masing melakukan berbagai kegiatan keseharian. Sihombing menyukai pergi ke sungai dan memancing, Swandoyo dan mbah Jaya merawat tanaman di halaman rumah sambil asyik berbincang, sementara Sita lebih banyak di rumah, membersihkan rumah dan memasak, pada kesempatan lain memainkan Handphone untuk berhubungan dengan kawan-kawannya.

Malam-malam selanjutnya menjadi kerja keras bagi Sita, mbah Jaya dan kedua sahabatnya menempa Sita dengan berbagai laku dan latihan sangat berat, beberapa kali Sita harus berendam setengah malam dalam air sungai, pada malam lain mereka mengunjungi Curug Prabuto di Dukuh Pekuluran, Sita hampir semalam suntuk bersemedi dalam guyuran air terjun nan dingin menggigit, pada mulanya Sita menggigil kedinginan, namun saat-saat selanjutnya dengan membangkitkan tenaga cadangan, tubuhnya mampu bertahan dalam guyuran air terjun tanpa merasa terganggu.

Sita telah mampu meloncat tinggi, bersalto dan hinggap diatas titian bambu melintang tanpa menimbulkan suara, tubuhnya menjadi lebih ringan dari sebuah bulu. Pada saat lain berloncatan dari satu tonggak ke tonggak lain untuk memastikan keseimbangan tubuh. Meniti sutas tali melintang yang diikatkan kedua ujungnya pada pohon mahoni setinggi 30 meter, tidak sedikitpun titian tali bergoyang, Sita pada akhirnya bahkan mampu berlari diatas seutas tali. Sita merasakan tubuhnya makin sehat dan ringan, darah mengalir lancar dalam tubuh. Pengaturan nafas menjadi lebih mudah dan tenaga cadangan dapat dibangkitkan hanya dalam beberapa detik. Sentuhan jemari lentik Sita mampu menghancurkan batu cadas dan menumbangkan pohon besar.

{{ message }}

{{ 'Comments are closed.' | trans }}