Koco Benggolo

Koco Benggolo

Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), telah melalui berbagai Pergolakan Politik, berbagai situasi kritis melanda sang Republik. Krisis Politik senantiasa berbuntut krisis ekonomi, yang membawa pada krisis sosial, krisis ketenteraman. Krisis, sepertinya tidak pernah mampu dicegah, datang begitu saja bagaikan badai, bagaikan gempa bumi, bagaikan tsunami. Pertentangan individu membawa pertentangan kelompok, sebab dari semua itu berpusat pada perilaku manusia, keserakahan, ambisi, ego, seorang anak manusia, mampu membuat ratusan, ribuan, jutaan, puluhan juta mmanusia lain menderita.

Kebenaran, satu kata yang memicu berbagai peristiwa, sesungguhnya tidak ada. Kebenaran dan Kejahatan, hanyalah persoalan sudut pandang. Seseorang atau sekelompok orang, merasa membela kebenaran, sesungguhnya hanya membela diri dan kelompok sendiri. Membela keyakinan diri dan kelompok, karena Kebenaran Sejati atau Kebenaran Universal tidak pernah dapat dipahami manusia. Konon, kebenaran sejati, kebenaran universal adalah milik Tuhan semata.

Sangat banyak Individu dan kelompok, menyatakan sebagai Pembela Tuhan. Saya menyetujui pendapat sang Maestro, Tuhan Tidak Perlu dibela. Akan tetapi, kegairahan manusia untuk "Membela Tuhan" tidak pernah padam. Pikiran nan jernih, mata yang teliti, mampu melihat dan memahami dengan terang, bahkan sang Pembela Tuhan sekalipun, sesungguhnya hanya Membela Diri atau Kelompok Sendiri. Hanya saja mereka menamakannya sebagai membela Tuhan.

Mayoritas Pembelaan terhadap Tuhan, diwarnai Pembelaan Agama, seakan Tuhan dan Agama itu identik. Setiap pembelaan kepada Agama, dianggap pembelaan kepada Tuhan. Agama senantiasa diwarnai keberpihakan, benarkah Tuhan Berpihak ?

Keberpihakan Agama, pada dasarnya sama saja dengan Keberpihakan Politik, bahkan banyak Politikus menjadikan Agama sebagai alat, sebagai kendaraan untuk mencapai cita-cita, ambisi pribadi, memuaskan ego, menyenangkan diri sendiri dan kelompoknya. Kelompok Politik senantiasa menjadi kelompok besar, kelompok dengan ambisi Penguasaan, terhadap sumber daya ekonomi, sumber daya alam, dan penguasaan atas manusia.

Keinginan melahirkan kepentingan, keinginan menjadi sebab satu atau banyak tindakan. Tidak ada studi komprhensif tentang keinginan Manusia, meskipun sesungguhnya keinginan adalah sentral dan kendali dalam diri manusia. Ketika manusia memiliki keinginan, yang pada umumnya berupa rangkaian bayangan muluk dan serba enak, serba menyenangkan, serba menarik. Muncul kegairahan untuk meraih atau mewujudkan keinginan tersebut. Keinginan membius manusia, membuat lupa pada kenyataan, karena kenyataan senantiasa paduan antara kenikmatan dan kesulitan, antara menyenangkan dan menyusahkan, antara menjengkelkan dan menarik. Sementara keinginan senantiasa hanya menyajikan hal-hal : enak, menyenangkan, menarik. Dalam kenyataan terdapat potensi kebosanan sedangkan pada keinginan, kebosanan belum punya peluang untuk muncul.

Contoh, seorang laki-laki timbul keinginan untuk bersanding dengan seorang Perempuan yg Ia idamkan. Dalam bayangan pikirannya, perempuan tersebut senantiasa nampak istimewa, nampak baik, santun, patuh, cantik, seksi, menarik dan segala situasi menyenangkan yg sesungguhnya hanya berada dalam pikiran/bayangan. Laki-laki ini secara umum dinamakan sedang jatuh cinta atau dibius oleh bayangan pikirannya sendiri, pikiranlah yang menciptakan segala bayangan keindahan tersebut. Pikiran jernih pasti menyadari bahwa tidak ada perempuan sempurna sesuai bayangan pikiran si lelaki. Akan tetapi segalanya tampak menyenangkan karena masih berupa bayangan. Saat keinginan tersebut terwujud, atau menjadi kenyataan, maka si laki-laki akan mulai melihat kenyataan, bahwa apa yang dia bayangkan selama ini tidak cocok dengan fakta yang ada pada perempuan tersebut. Situasi ini memicu kekecewaan, dan pada akhirnya menjadi pangkal munculnya konflik.

Seseorang berkeinginan menduduki satu Jabatan, dalam benaknya membentuk serangkaian situasi nikmat, enak dan menyenangkan berhubungan dengan jabatan tersebut. Keinginan memicu gairah dan energi, mulailah orang tersebut mengerahkan segala cara dan upaya untuk mencapai jabatan tersebut. Ketika keinginan tersebut terwujud, akan muncul berbagai kendala, keburukan, kesulitan sebagai konsekuensi jabatan tersebut, situasi ini memicu kegelisahan, kekecewaan, kegalauan dan berpeluang menjadi frustasi.

Meskipun demikian, keinginan adalah rasa yang membentuk dinamika kehidupan, sehingga keinginan ini sepertinya ditanam oleh Tuhan dalam setiap diri manusia, agar manusia mampu menjalani kehidupan. Manusia tanpa keinginan akan berhenti, tidak akan melakukan apapun, sehingga kehidupan menjadi Tanpa warna, tanpa dinamika.

Pilihan yang tersedia adalah, mengatur dan mengendalikan keinginan agar tidak menjadi sesuatu yang destruktif, berhenti merangkai bayangan muluk berdasar keinginan tersebut. Waspada, teliti dan berpikir jernih bersama kesadaran bahwa seluruh hal dalam alam ini tidak selalu sempurna sebagaimana bayangan. Setiap ada senang, senantiasa terkandung susah, setiap ada bahagia selalu menempel pada sengsara, setiap kegembiraan senantiasa bersanding dengan kesusahan. Manusia bahagia adalah manusia yang mampu menerima, menjalani susah sebagaimana menjalani senang, menikmati kebahagiaan sebagaimana menjalani kesengsaraan, menjalani kesulitan sebagaimana menjalani kemudahan.

{{ message }}

{{ 'Comments are closed.' | trans }}